Media Sosial, Sebuah Tantangan



Di era globalisasi yang ditunggangi oleh Word Bank, IMF, dan WTO saat ini, jarak antar negara terasa sangat dekat. Hal itu dikarenakan teknologi semakin canggih, sehingga untuk mengakses informasi dari satu daerah ke daerah lain atau dari satu negara ke negara lain dapat dengan mudah dilakukan. Salah satu contoh teknologi yang sekarang ini banyak digunakan adalah internet. Mungkin internet sekarang sudah menjadi kebutuhan bagi semua orang yang menggunakannya. Didalam internet terdapat media sosial yang berguna untuk mengakses suatu informasi, seperti berita. Publikasi berita di media sosial sekarang ini sangatlah bebas dan tidak terkendali, penyebabnya adalah kebebasan berpendapat.
            Dengan kebebasan itulah, berita juga bisa dibuat menjadi suatu informasi yang tidak benar yang mengarah kepada fitnah. Akibatnya berita tersebut dipertanyakan keakuratannya. Berita yang tidak benar tersebut biasanya digunakan oleh suatu kelompok untuk menyerang kelompok lain, atau dalam ranah politik praktis saat pesta demokrasi berlangsung digunakan untuk menyerang pasangan lain. Berita yang tidak benar seperti itu, dapat mengakibatkan suatu perpecahan atau yang paling ekstrem pada ranah nasional bisa berakibat disintegrasi bangsa.
Berita di media sosial biasanya dibawahnya terdapat kolom komentar. Selain berita yang tidak benar, komentar-komentar dari netizen bisa juga membuat suatu perpecahan. Sebagai contoh, ada suatu berita yang akurat dan sesuai fakta, kemudian seorang netizen tidak setuju dengan berita tersebut, lalu netizen itu berkomentar dengan kalimat yang bernada penghinaan. Disisi lain, ada netizen yang setuju, kemudian membalas komentar dari netizen yang tidak setuju itu dengan kalimat yang tidak sesuai juga, sehingga terjadilah debat yang tidak jelas dan bukan menyelesaikan masalah tetapi malah membuat masalah baru yaitu perpecahan, meskipun perpecahan itu tidak langsung terjadi, namun bibit-bibitnya sudah mulai muncul.
Terkadang komentar-komentar dari netizen, ada juga yang tidak masuk akal. Bahkan ada yang sampai berani menafsirkan Al Qur’an dengan pendapatnya sendiri. Jika dia merupakan seorang yang paham akan cara menafsirkan Al Qur’an itu tidak masalah, tetapi jika tidak tahu akan menjadi masalah. Komentar-komentar yang tidak masuk akal dan tak berdasar yang ditulis oleh filsuf dadakan tersebut, dapat mengakibatkan kesesatan informasi dan bisa mengarah pada kemerosotan berpikir. Munculnya komentar-komentar itu, dikarenakan oleh tidak adanya penyaringan terhadap berita yang dibaca. Akibatnya muncullah korban berita yang hanya mengikuti berita yang ada, sehingga hasilnya menurunkan sikap dan berpikir kritis terhadap suatu berita.
Permasalahan tersebut bisa ditanggulangi dengan cara menyaring berita-berita yang dibaca. Komentar yang ditulis harus menggunakan dasar dan masuk akal, itu bisa didapatkan dengan membaca referensi seperti buku. Sehingga terbentuklah cara berpikir kritis dan tidak sembrono dalam menerima berita. Sebab berita yang beredar saat ini banyak ditunggangi oleh kepentingan kelompok tertentu.

0 komentar:

 
Copyright © 2009 Kesadaran Anak Bangsa |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights